Menjadi Sahabat Bagi Anak

menjadi sahabat bagi anak pelatihan kerajinan flanel rumahbalqis

sumber gambar: google

Menjadi orang tua di zaman modern saat ini sungguh tidak mudah. Tantangannya semakin canggih. Bukan hanya dari personel sang buah hati, tapi juga pengaruh luar. Lingkungan pergaulan, teknologi informasi hingga media massa tak henti-hentinya menjajah pemikiran anak-anak. Tak mudah bagi orang tua untuk senantiasa memahami isi kepala ananda tercinta.

Nah, salah satu strategi untuk selalu bisa mengawasi perkembangan anak adalah dengan menjadi sahabat anak.  Ini karena sebagai pribadi yang masih labil, dalam kesehariannya anak-anak sangat membutuhkan figur orang tua. Orang tua adalah role model bagi mereka.

Tapi, di sisi lain, dengan perkembangan usia, anak membutuhkan sosok sahabat yang bisa menjadi partner dalam dunianya. Nah, sebagai orang terdekat anak, orang tua harus bisa berperan sebagai sahabat bagi anak. Sebagai sahabat, orang tua hendaknya menempatkan diri sejajar dan partner anak. Bagaimana caranya?

Pertama, jadilah pendengar yang baik dan aktif. Siapkan telinga untuk mendengar celotehnya. Berikan respons positif dan logis ketika anak curhat. Ajukan pertanyaan-pertanyaan seputar ceritanya, tapi jangan membuat privasinya merasa terusik dan terganggu. Berikan anjuran atau pendapat yang bisa ia mengerti, tapi jangan menekankan keharusan yang terkesan mendikte. Kembangkan inisiatif dan kreavitasnya.

Kedua, libatkan diri dalam kegiatan anak. Pahami apa yang disukai dan tidak disukai anak. Selami dunia si kecil. Temani dan dampingi anak ketika bermain. Pahami kebiasaan-kebiasaan yang ia lakukan saat beraktivitas. Perhatikan kreativitasnya terhadap mainan dan ajaklah berbicara secara aktif agar kecerdasannya terstimulasi secara efektif. Dengan melakukan ini, orang tua dapat memahami kelebihan dan kekurangan anak, serta tidak selalu memaksakan kehendak terhadap anak.

Ketiga, berikan pujian dan teguran secara jujur, tulus, proporsional dan rasional. Ketika anak berbuat salah, tegur ia dengan sikap tidak menghakimi. Jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan. Berikan pujian untuk setiap keberhasilan yang diraihnya agar ia merasa dihargai dan termotivasi, tapi jangan berlebihan. Sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur, tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.

Keempat, berikan kepercayaan pada anak. Sesekali biarkan anak mencoba sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya asal tidak membahayakan. Misal mandi dan makan sendiri atau mencoba permainan baru. Cara ini dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Dengan penghargaan dan kepercayaan, kemampuan kreatifnya pun akan lebih berkembang.(kholda-mediaumat/berbagai sumber)

Sekian share saya kali ini, semoga manfaat ya..

Ingin ngobrol dengan saya langsung?
SMS 0896-0809-2002
WA 0896-6118-1853 atau
invite 26c4bd0b atau 29eb0388

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s